Shichinensei Gakusei of Ryokushoku O Obita Academy; sorted into Sakura dorm.
[roleplay character] Visualization : Shunsuke Daito

Seleksi Asrama. 2005.

Ponsel adalah temannya, ya. Benda elektronik bernama ponsel itu selalu menyala dan digenggamnya, sejak kereta peluru ini mulai bergerak dari stasiun Akita. Dalam perjalanan yang memakan waktu dua jam ini, menemani Taka yang tak punya keberanian berbicara dengan penumpang lain.

Kelebatan di luar jendela telah jelas berbentuk ketika pemuda Shizuoka itu melirik, pertanda shinkansen yang ditumpangi telah sampai pada tempat tujuan. Taka menjejalkan ponselnya dalam kantong dan menyusul keluar, bergabung dalam keriuhan, hiruk-pikuk penuh celotehan antusias sesama murid baru. Dua orang miko, dua ekor rubah, seorang wanita berkimono yang anggun dan riang telah berdiri, menyambut rombongan mereka di depan gerbang hijau menjulang setelah melewati proses warp dari stasiun.

Rena-sensei—yang berkimono ungu—memberi komando untuk mengikutinya melewati gerbang seusai perkenalan singkat.

Sekali lagi dia merasakan sensasi unik itu.

Ketika Taka mengangkat kepalanya untuk mendongak, langit hitam bertabur kelap-kelip bintang menghilang, berubah, digantikan oleh atap dari sebuah ruangan berarsitektur kuno. Sudah dua kali proses warp. Sekarang waktunya prosesi paling penting—seleksi asrama.

Orangtuanya sudah menjelaskan panjang lebar segala prosedur yang akan Taka jalani di sekolah baru—rumah barunya, rumah keduanya. Nyaris lebih dari 20 tahun menjadi alumni, kedua orang itu masih mampu mengingat jelas setiap detail. Hanya perlu menyentuh bola kristal, walla. Muncul warna asramamu. 

Taka tertawa pelan mendapati tangannya terjulur mencari sesuatu untuk dielus, dan hanya udara kosong di sebelahnya. Semacam kebiasaan Taka mengelus hidung Moku, anjing peliharaan yang setia kalau nervous seperti sekarang. Taka sendiri memilih untuk meninggalkan kawan hewannya di kampung halaman karena sebuah alasan, ia tak boleh bergantung begini.

Kan?

“Nishino Takahisa-san.”

Nah, gilirannya tiba. Telapak tangannya pun menyentuh permukaan halus si bola kristal. Mari berdoa untuk yang terbaik, asrama manapun yang dipilihkan benda ini untuknya.

Read More

koto-mi:

Kekkyoku anata no denwa wo matte bakari iru.
tumblrbot asked: WHAT IS YOUR FAVORITE INANIMATE OBJECT?

Bunga—-etto, mereka makhluk hidup ya. Kalau begitu, ponsel.

Keitai Denwa

Mengajak anjing peliharaan jalan-jalan selayaknya seorang pemilik yang baik.

Taman Senshu jelas lebih luas dibanding kompleks rumah Taka dan membuat Moku lebih leluasa berlarian, walau masih terikat tali kekang di lehernya. Agak repot juga, tergeret karena kalah dengan kekuatan si anjing ras Ibizan Hound miliknya. 

Sudah diputuskan, dia tidak akan membawa kawan hewannya ini ke sekolah barunya itu. Moku berukuran besar—nyaris mencapai sepinggang badan Taka, dan meski bukanlah tipe anjing yang ribut dan sudah dididik tingkah lakunya dengan baik, entah apakah temannya (itu juga kalau ia dapat)—atau Moku sendiri akan suka.

Karena itulah si anjing ada disini bersamanya untuk beberapa hari, menghabiskan waktu bermain bersama.

“Berhenti dulu, Moku. Duduk.”

Si anjing berhenti, dan duduk di samping pemiliknya dengan patuh. Mata si anjing mengikuti pandangan pemiliknya, ke arah sebuah pohon sakura yang tengah berbunga lebat, dan sebuah kolam ikan di sebelahnya. Kata otou-san dan okaa-san, pohon sakura itu abadi. Ketika pohon lainnya merontokkan daun-daunnya di musim gugur, dan tak ada lagi daun menempel di ranting saat musim dingin, pohon ini tetap memiliki bunga sakuranya yang indah. 

Di sebelahnya juga bukan kolam biasa, melainkan kolam gaib, magis, sebuah portal.

Taka merogoh kantong jaket parka-nya, mengeluarkan gadget favorit Taka sepanjang masa—ponsel. Flipnya sudah terbuka, dan ia memfokuskan kamera ponsel tersebut pada dua objek di depannya itu. 

‘Bukankah pemandangan yang indah?’

KLIK!

—-

KLIK! KLIK!

Kalau ia mengirimkan foto-fotonya kepada Takuma, yakinlah pemuda itu hanya akan tertawa, menganggapnya pohon sakura yang biasa seperti di halaman kastil Hamamatsu, tempat piknik yang biasanya ramai saat musim semi di kotanya. Pohon sakura yang indah namun sementara. Walau pohon sakura abadi atau bukan, bunga tetaplah bunga, kecantikan natural yang tak terkalahkan itu tetap ada.

Cara pandangnya itu karena pengaruh ibunya yang berprofesi sebagai florist… mungkin.

“Apakah anda juga calon murid Ryokubita?”

Moku menyalak sekali, mengingatkan majikannya ada eksistensi yang mendekat. Seorang gadis. “Ryoku—aa. Iya.” Taka tersenyum canggung pada si gadis, yang rupanya sesama calon murid sekolah sihir dengan nama panjang itu—ya, bahkan dia sendiri kadang kewalahan menyebutkannya. “Ada apa, ojou-san? Butuh bantuan?”

Siapa sangka akan dihampiri seseorang pada acara jalan-jalan ini. Tangan Taka menggenggam erat tali kekang Moku, seperti meminta dorongan mental untuk jadi lebih berani. Berbeda sang majikan, berbeda si peliharaan —lalu?. Anjing besar itu jauh lebih gampang beradaptasi dengan lingkungan baru, lebih aktif, walau mereka berbagi satu kesamaan juga : pendiam. Moku lebih jarang menggonggong dibanding anjing lainnya, walau tetap hiperaktif.

tugtug.

Lihat. Moku mulai bertingkah, mendus-endus tangan anak perempuan itu, biasa terjadi kalau ada yang menarik perhatiannya. Mulut Taka terbuka, tapi tertutup lagi, terbuka-tertutup lagi, bingung apa kata yang harus ia lontarkan—bagaimana menjelaskan tingkah anjingnya. 

“…Sepertinya dia suka wangimu.”

Err.

“Eto… gomenasai. Aku tidak begitu suka tanganku diendus begitu,”

Bukan pecinta anjing rupanya. Taka tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya, tidak bermasalah atas alasan si ojou-san. Banyak yang tidak suka anjing karena suatu alasan, entah itu takut digigit, pernah punya kejadian yang menyebabkan trauma…

Agar gadis itu merasa lebih nyaman, Taka menarik tali kekang Moku agar ia menjauh, kawan hewannya itu pun mundur teratur dan duduk diam di samping sang pemilik. Anjing pintar, bukan? Taka menepuk kepala si anjing dengan sayang, apresiasi karena sudah menurut.

“Karisawa Haruka desu. Yoroshiku onegaishimasu.”

Ikut membungkukkan badannya. “Nishino Takahisa desu. Yoroshiku, Karisawa-san.”

(guk!)

Kembali menoleh ke arah pohon sakura dan kolam di belakangnya. “Iya, itu memang portal menuju …dunia sihir. Jangan ragu untuk terjun ke situ, jangan takut basah.” 

Saat pertama kali lewat portal, hal itulah yang Taka cemaskan. Terasa sensasi aneh setiap melewati kolam portal, tapi jangan khawatir, tak ada efek samping lainnya bahkan pakaianmu akan tetap kering total. Agak susah kalau sambil membawa hewan peliharaan seperti dia, kewalahan membujuk Moku agar mau masuk ke kolam.

—-

Kenapa harus keberatan kalau Karisawa-san duduk di situ. Bangku itu bukan miliknya. Milik semua orang yang berkunjung di taman, siapapun mau duduk di situ, duduklah.

“Karisawa-san tidak sendirian rupanya…” ujarnya lega, sempat berpikir untuk mengantar orang yang baru ia kenal itu melewati portal, tapi karena sebentar lagi adiknya menyusul kemari, sepertinya tidak perlu. Kecuali mereka butuh bantuan lagi, Taka akan senang membantu sebisanya. 

Tak enak untuk ngeloyor pergi begitu saja melanjutkan jalan-jalannya, Taka ikut duduk bersama Karisawa. Ceritanya menunggui si adik datang sambil menjaga kakaknya. Bukankah laki-laki wajib menjaga seorang perempuan? Entah apa Taka sanggup tapi coba saja. “Boleh tahu siapa nama adik Karisawa-san?”

Karisawa-san punya adik sebagai teman seperjalanan. Sementara Taka bisa dibilang sendiri, hanya ada teman hewan bukan teman manusia.

Dan temannya dalam saku. 

(…Jin? Yokai yang tersegel? Sayang sekali bukan.)

Itu kelewatan keren, jadinya tidak mungkin.

Kehilangan kata-kata lagi untuk diucapkan, Taka kembali sibuk dengan ponselnya yang tadi terabaikan. Tak ada e-mail untuk dibalas. 

“…Sembari menunggu, ayo makan.” Tercetus begitu saja. Ada banyak penjaja makanan di sekitar taman, dan anggaplah ini permintaan maaf karena perilaku Moku tadi. Taka memandang penuh harap agar Karisawa-san menerima tawarannya.

——

Dia bertanya nama adik gadis di sebelahnya tanpa ada maksud jahat atau apa. Setidaknya dengan tahu nama orang yang akan dia temui nanti, itu bisa mengurangi kecanggungan ketika bertatap muka.

“Hmm… apa yang ingin kau makan, Nishino-san?”

… pikir.

“Nah, aku tidak usah beli. Karisawa-san mau makan apa?” Balik bertanya, karena Taka tak ada niatan membeli makanan untuk dirinya, cukup untuk Karisawa-san saja. Kebiasaannya membelikan makanan kepada orang kalau ia merasa bersalah kepada mereka. Itu kebiasaan bagus—kan? 

“Taiyaki, Takoyaki, Nikuman, Dango… Apapun.”

Taka hanya manut apapun yang dipilih. Ini traktiran darinya. Taka yakin dia membawa cukup uang yang tersimpan aman dalam salah satu kantong celana—tidak lucu kalau dia kecopetan. Moku akan mengejar dan menggigit pantat pencopet malang itu tanpa ampun. 

Dan ujung-ujung malah Taka—korban—yang meminta maaf dan mentraktir si pencopet. Pernah terjadi. 

Maa~ Sono konna boku desu.

____________________________________

Sono konna boku desu: That’s how I am.

lovequotesrus:

Photo Courtesy: thediarists